Aku selalu merindukanmu, bahkan rinduku tidak hanya sekedar rindu. Yang aku rasakan saat aku merindukanmu selalu dengan rindu yang hebat. Aku tidak terlau pintar menyembunyikannya rinduku tapi aku selalu berusaha menetupi, agar siapapun tidak bisa membaca rindu yang sedang aku rasakan. Terasa kaku untuk mengatakanny meski rindu ini terus menyikasaku.
Terlalu Kaku Untuk Mengatakan “Hai Aku Rindu”
“ Hai aku rindu ” mengapa lidahku terlalu kaku untuk mengatakannya walau hanya terdiri dari kata-kata yang sangat mudah. Tetapi justru kata-kata yang mudah itu mengandung arti yang sangat berat untuk dikatakan.
Hanya sebatas satu kata aja susah banget untuk ngucapinnya, apalgi yang terdiri dari tiga kata. Bukan tidak tersika bahkan hati ini sangat tersika ketika ingin menyapamu, hai aku rindu.
Selalu Mengumpulkan Keberanian Terlebih Dahulu Jika Memang Mengharuskan Untuk Menyapamu
Bahkan jika harus menyapamu terlebih dahulu, aku tidak serta merta langsung menyapamu seketika, tidak. Karena disetiap sapaan yang aku tanyakan kepadamu, yang mungkin satu atau dua kata, aku selalu mengumpulkan keberanian diri sebelumnya.
Ketahuilah tidak mudah untuk mengumpulkan keberanianku untuk menyapamu, seberat apapun aku harus lakukan itu, karena aku memilki sebuah janji terhadap diriku sendiri.
Meski menyapamu terlebih dahulu aku lakukan sebulan sekali, aku akan tetap melakukannya. Karena janjiku ada pada diriku yang tidak bisa aku katakan juga terhadapmu.
Seolah-Olah Aku Telah Membungkus Kado Yang Siap Aku berikan Untukmu, Akan Tetapi Aku Tidak Pernah Memberikannya Kepadamu, Itulah Yang Aku Sebut Rindu, Rinduku Padamu
Sederhananya rindu ini adalah sebagai hadiah untukmu, tetapi aku belum bisa untuk memberikannya untumu. Bahkan jika sampai kapanpun aku tetap tidak memberikannya, ia akan selalu terbungkus rapi.
Seperti halnya aku telah membungkus kado yang indah dan siap aku berikan padamu tapi malah aku menyimpannya, tidak pernah memberikannya kepadamu. Itulah rinduku padamu.



Posting Komentar